expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Senin, 14 Juni 2010

JKA, Jaga Kesehatan Anda !

Dimuat di Harian Aceh, edisi 10 Juni 2010

ilustrasi dokter sedang bekerja.
Jaminan Kesehatan Aceh menjadi buah bibir akhir-akhir ini. Bukan hanya karena melibatkan dana yang sangat besar, tetapi juga JKA ini juga menjadikan jutaan masyarakat miskin sebagai objek pelaksanaannya. Target besar yang digadang oleh instansi terkait yang tidak sebanding dengan persiapan dan implementasi di lapangan membuat mimpi menyehatkan masyarakat Aceh melalui program ini masih jauh panggang dari api. Selain itu, pelaksanaannya yang masih meniru konsep lama serta para pemain yang masih berasal dari wajah-wajah lama dikhawatirkan tidak akan memberikan pengaruh besar pada pelayanan dan cakupan program ini.
Beberapa minggu yang lalu sebuah berita di beberapa harian lokal memberitakan keluhan masyarakat terhadap perilaku salah seorang dokter spesialis (Direktur RS yang menaungi dokter tersebut menyebutkan dengan istilah ‘praktek tidak sehat‘) yang memberikan resep obat diluar tanggungan Askeskin terhadap salah seorang pasien miskin. Sang pasien mengeluh karena harus mengeluarkan biaya yang lumayan tinggi untuk obat tersebut. Dalam artikel lain, surat kabar ini serta sebuah situs berita lokal memberitakan seorang pasien yang ditolak dioperasi oleh seorang dokter bedah di RSUZA. Heboh kejadian tersebut menyebabkan salah seorang dokter bedah konsulen harus diberikan sanksi indisipliner dan direktur RSUZA berjanji akan menindak bawahannya yang tidak disiplin dalam bekerja.

Kasus Zubaidah dan Aisyah Saidi, pasien kanker payudara yang diberitakan ditolak rawat inap dan operasi oleh pihak RS, yang sempat diberitakan oleh Harian Aceh merupakan kisah buram pelayanan kesehatan di Aceh. Masih banyak kasus lain yang tidak di ekpose oleh media dan menambah deretan panjang keluhan pelayanan kesehatan di bumi Serambi Mekkah tercinta ini. Sebenarnya apa yang diinginkan masyarakat?
Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang semula direncanakan mulai April 2010 akan diluncurkan serentak Juni ini. Mengutip pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Aceh,  program ini sudah siap untuk diaplikasikan kepada 1,2 juta masyarakat yang tidak tertampung dalam jaminan kesehatan dari jamkesmas, Askes maupun Jamsostek. Beliau juga menyebutkan bahwa dana JKA yang ada juga akan digunakan untuk menambah yang kurang dari layanan Jamkesmas sehingga meningkatkan mutu layananan kesehatan yang diberikan yang mencakup semua jenis pelayanan kesehatan, kecuali dibidang kosmetik seperti operasi plastik. Apakah ini yang sebenarnya diinginkan masyarakat?

Sebuah LSM yang bergerak di bidang pemberantasan korupsi menyampaikan kekhawatiran mereka akan tumpang tindihnya pelaksanaan JKA dengan Jaskesmas yang berlaku secara nasional. Lembaga tersebut juga memprediksikan pelaksanaan JKA ini rawan masalah dengan berbagai pertimbangan termasuk belum dilakukannya pengumpulan data yang diperlukan oleh dinas terkait untuk penerapan sistem asuransi yang diklaim oleh gubernur Aceh sebagai satu-satunya program jaminan pemeliharaan kesehatan bagi masyarakat semesta (universal coverage) yang pertama di Indonesia. Bahkan dana 10 milyar rupiah yang dialokasikan pada APBA 2009 terpaksa dikembalikan dengan alasan yang tidak jelas, sebut LSM tersebut. Lembaga itu juga mensinyalir terdapat 400 ribu penduduk yang tidak tercakup dalam asuransi ini dengan asumsi 2,7 juta penduduk mendapatkan asuransi Jamkesmas dan 1,2 juta akan ditanggung oleh JKA yang memplotkan dana 241 milyar rupiah. Apakah ini sudah menjawab keinginan masyarakat?

*****

Kita tidak menginginkan menjadi pasien. Bahkan kalau diberikan pilihan, semua kita pasti menghindari datang ke rumah sakit. Tapi ketika musibah itu datang, apa yang kita lakukan? Apa yang kita inginkan ketika kita sakit dan berobat ke Puskesmas atau rumah sakit? Penulis yakin kita pasti tidak menuntut hal-hal yang terlalu berlebihan dan mengharapkan perawat serta dokter dengan sigap dan tergesa-gesa menjemput kita di luar Instalasi Gawat Darurat serta memberikan pertolongan cepat seperti di film-film barat yang sering kita tonton. Kita sebagai pasien (semua orang termasuk dokter dan paramedis pernah bertindak sebagai pasien), menginginkan ada seseorang yang berempati terhadap kesulitan yang kita alami pada saat itu, dalam kasus ini: sakit, dan mengharapkan ada orang yang kita percayai (dokter dan paramedis) bisa membantu kita mengurangi kesulitan tersebut. Keinginan yang sangat sederhana dan itu jualah alasan kita ke sana. Apakah kita telah mendapatkannya?

Pelayanan yang ramah dan handal, biaya pelayanan dan harga obat yang terjangkau serta birokrasi puskesmas dan rumah sakit yang tidak mempersulit merupakan tiga hal yang sangat diharapkan masyarakat saat ini. Masyarakat tidak menuntut lebih dari itu. Seandainya para pengambil kebijakan di bidang ini tahu dan mau berempati terhadap ketiga hal tersebut, maka berita-berita miris tentang pelayanan kesehatan dan program-program pendukungnya akan jarang kita baca di surat kabar. Tetapi mengapa sampai saat ini keluhan masyarakat terhadap salah satu hak azasi setiap manusia ini masih saja terjadi?
Mewujudkan tiga hal tersebut diatas  memang bukan hal yang mudah. Berbagai sistem kesehatan telah dicoba di Indonesia, dari Askeskin sampai Jamkesmas, nyatanya tidak menjadikan pelayanan kesehatan di negara ini semakin baik. Bahkan indikator pembangunan kesehatan (yang dinilai dalam Human Development Index, HDI) seperti angka kematian ibu dan bayi, juga tidak banyak terjadi perubahan. Penyakit menular yang memberi sumbangsih terbesar dalam kematian manusia di Indonesia juga hingga saat ini belum dapat tertanggulangi. Indikator tersebut dua dari sekulumit masalah kesehatan yang masih melilit Indonesia dan Aceh khususnya.

Lalu apa yang kita harapkan dari sebuah sistem kesehatan yang tidak mampu menjamin kesejahteraan umat manusia ini? Bahkan memberikan pelayanan standar layanan kesehatan kepada masyarakat saja kita belum mampu.
 
Aceh diharapkan dapat mengambil tindakan selangkah lebih maju dari propinsi lain dalam bidang ini seperti yang diharapkan gubernur dalam berbagai berita yang kita baca di media massa. Dengan kewenangan dalam berbagai bidang serta sumber daya dan dana yang besar diharapkan mampu memberikan standar layanan minimal kepada masyarakat yang sangat membutuhkan, apalagi dengan asumsi sekitar 50% penduduk Aceh masih dalam lembah kemiskinan. JKA merupakan langkah awal yang sangat baik dan patut kita berikan apresiasi, walaupun pengawasan dan penyempurnaannya tidak bisa kita lupakan dan menjadi tanggung jawab kita bersama.
  
Penunjukan sebuah BUMN yang bergerak di bidang asuransi kesehatan sebagai mitra kerja dalam program JKA ini menurut hemat penulis bukanlah sebuah opsi yang tepat. Walaupun BUMN tersebut dianggap paling berpengalaman dalam bidang pelayanan kesehatan di Indonesia, tetapi pelayanannya sering dikeluhkan masyarakat karena birokrasi yang kadang-kadang terlalu rumit dan ketersediaan obat yang sering sangat terbatas. Menggandeng asuransi kesehatan swasta yang sudah terbukti mampu memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat atau bahkan mendirikan sebuah BUMD yang bergerak dalam bidang asuransi kesehatan merupakan sebuah terobosan yang patut dipikirkan dan dicoba oleh Pemerintah Aceh. BUMD ini merupakan solusi yang tepat dalam mengatasi jumlah pengangguran serta memberikan kontribusi bagi Pemasukan Asli Daerah (PAD).

Pembiayaan JKA seharusnya juga tidak membatasi diri pada upaya-upaya kuratif semata. Pemerintah sudah sepatutnya mengalokasi plot dana yang berimbang kepada upaya-upaya preventif dan promotif. Karena upaya ini diyakini mampu mengurangi angka kunjungan ke puskesmas dan rumah sakit, dan pada akhirnya nanti mengurangi cost yang dikeluarkan pemerintah dalam upaya pengobatan. Selain itu, peningkatan kesejahteraan praktisi kesehatan yang terlibat dalam pelaksanaan program ini juga perlu diperhatikan. Tanpa adanya kesejahteraan tenaga medis, mustahil pelayanan yang maksimal dapat terwujud.

Saat ini masyarakat menaruh ekpektasi yang besar terhadap program JKA ini. Semboyan “hanya dengan KTP dan KK masyarakat dapat berobat gratis ke Puskesmas dan rumah sakit“ merupakan semboyan yang sangat menggiurkan dan begitu indah terdengar. Bagaimana mengaplikasikan program-program pelaksanaan dalam JKA ini merupakan hal penentu apakah program ini berjalan dan memberi hasil seperti yang diharapkan. Apakah program ini akan sesuai target yang diharapkan ataukan hanya sebagai program menghabiskankan dana APBA, kita lihat saja.

NB: Terimakasih kepada Kanda Taufik Al Mubarak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar