expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 28 Januari 2009

Movie: It sounds delicious

Film Malaysia Cicak Man (internet)
Bosan. Nampaknya tidak ada kehidupan yang paling membosankan selain sendirian di rumah dan tidak tahu apa yang ingin dikerjakan. Dua film sudah selesai melewati mataku dan singgah sebentar di saraf-saraf otakku. Not bad. Apalagi yang terakhir, “Little Chicken”, asik banget. Nampaknya film lawas sih, tapi aku baru mendapatkannya beberapa hari lalu dari kawan sebelah apartemen ku. Dia memberikan beberapa film kemarin dan baru tiga dari beberapa film yang aku masukkan ke memori laptopku, yang sempat ku tonton. Selebihnya, mungkin harus ku tuntaskan dalam waktu dekat. Hobi ku yang dulu harus ku kembalikan lagi, hehe.



Semenjak aku menginjakkan kaki ku di negeri ini, belum sempat pun aku nonton di bioskop. Minggu kemarin aku sempat singgah di Cinema di Midvalley, tetapi ketika aku ingin menonton sebuah film, kawan seperjalananku mengajak pulang. So bad ya? Padahal ingin sekali aku menonton film di saat kondisi ku seperti ini, lelah dan bosan. Menonton film merupakan hobi yang menyenangkan.

Tapi walaupun demikian, aku pernah juga menonton film selama di sini, tapi dalam rangka studiku di sini. Dan endingnya adalah kami harus membuat resensi untuk film tersebut serta harus di presentasikan di kelas. Puff..Sepertinya kami dididik menjadi kritikus film di sini, hehe. Film pertama dalam bahasa Jerman yang aku tonton, “Rehnt Lola rehnt“ atau di Inggriskan “Run Lola run“, sebuah film yang menarik ku kira. Walau ceritanya agak ‘berat’, but I guessed film Jerman tidak kalah dengan film Hollywood. Ya, agak ’berat‘ sih, tetapi enjoyable. Seperti Herr Angelo (guru Bahasa Jerman kami) bilang: film Jerman sebagian besar agak ‘deep’ jadi membutuhkan pemahaman yang lebih untuk memahaminya. Tapi aku menyukainya, walau menurutku, menonton film Jerman tidak begitu mempengaruhi penambahan jumlah kosakata kami, tetapi lumayan lah untuk belajar listening dan pronounciation. Yah, anda mungkin tahu, bagaimana kita bisa mengerti pembicaraan umum (like in movies did) padahal kita baru belajar bahasa tersebut selama dua minggu. Thanks God, subtitle helped us. Yah, minimal untuk mengerti jalan ceritanya, bukan bahasanya, hehe..

Film berbahasa Jerman kedua yang aku tonton adalah “Der Tunnel”. Ini merupakan film yang hebat menurutku. Luar biasa! Congratulation! Empat bintang dari ku, dalam Bahasa Jermannya ‘sehr gut’ (very good, red). Karena selain ceritanya diangkat dari kisah nyata, alurnya juga bagus banget. Dan mengena banget. Menceritakan tentang sejarah pendirian tembok Berlin dan bagaimana kisah sedih yang dialami oleh penduduk Jerman Timur yang ingin menyeberang ke Jerman Barat bahkan harus rela menggali ‘der Tunnel‘ (Tunnel rupanya ‘laki-laki‘, how come?) sejauh 150 meter dari Jerman Barat ke Jerman Timur dan melintasi Tembok Berlin. Luar biasa! Dan yang luar biasa nya lagi, (kembali) kami harus membuat resensi terhadap film ini. Lumayan menguntungkan bagi kelompok kami sih karena hanya harus mempresentasikan karakter dari masing-masing tokoh. Sedangkan kelompok-kelompok lainnya harus membuat presentasi mengenai perbedaan Jerman Barat dan Jerman Timur dari berbagai aspek, pendidikan, teknologi, budaya, sosial, dan lain-lain. Complicated banget kan? Ini kursus bahasa atau sekolah kritisi film sih? Hehe..Satu lagi yang menarik dari film ini, hanya sedikit sekali terdapat adegan yang diperuntukkan bagi penonton 17+. Bahkan termasuk tidak ada jika dibandingkan dengan film-film Hollywood lainnya. Jadi menarik untuk di konsumsi oleh remaja ’17-‘ untuk mengetahui tentang sejarah Jerman. Lucunya, ketika kami menonton film ini di lecture hall yang memiliki peralatan canggih dan audio yang lumayan bagus dimana disitu terdapat lebih dari 70 orang dewasa 17+, satu-satunya adegan tersebut, di sensor oleh chief kami. Gak lewat sensor katanya, hehe.

Bicara soal film, emang tak akan habis-habisnya untuk kita bahas. Setiap bangsa memiliki selera masing-masing mengenai film. Industri film terbesar di dunia, Hollywood, memiliki sense yang kuat dalam pembuatan film. And I like it. Apapun jenis filmnya, Hollywood memberikan nuansa tersendiri bagi film tersebut. Apalagi film animasi, sense nya begitu terasa. Mereka mengkombinasikan humor, ironi, drama, thriller dalam satu paduan yang bagus sekali sehingga penonton mendapat sesuatu dari apa yang kita tonton. Sebagian besar seperti itu. Lihatlah film “Shrek”, “Ice Age”, “Finding Nimo”, “Routetile” dan puluhan bahkan ratusan film animasi lainnya, pasti memiliki sesuatu pelajaran bagi kita. Tentang persahabatan, cinta kasih, kejujuran, semangat dan lain sebagainya. Jadi istilahnya film animasi ini bisa di konsumsi tidak hanya oleh dewasa tetapi juga anak-anak. Yah, anak-anak di sana maksud nya. Anak-anak disini dibolehkan menonton tapi harus didampingi orang tua, sehingga ketika orang tuanya mencium ada ‘gelagat yang tidak beres’ dari film tersebut, mereka bisa langsung menekan tombol forward atau go to yang ada di remote control, hehe.

Film Indonesia lain lagi. Mereka cenderung membuat film yang bertemakan cinta dengan penuh penghayatan. Cinta dengan tema pengkhianatan, romantika, dan biasanya ceritanya mudah di tebak dan bertele-tele. Tetapi walaupun demikian, beberapa film Indonesia juga bagus untuk di tonton. Saya sendiri suka dengan “Ada Apa Dengan Cinta”. Film ini bahkan sampai berkali-kali saya tonton. Film lainnya? Ada juga yang bagus sih, tapi menurut saya belum mampu menyaingi film AADC bahkan sekelas “Ayat Ayat Cinta“ sekalipun. Untuk genre drama dan realitas sosial, film “Laskar Pelangi“ juga menarik untuk di tonton. Tapi saya kira film ini bagus karena ceritanya memang bagus. Inspiratif. Bukan karena sutradara yang pandai dalam membuat film ini, tetapi memang cerita karangan Andrea Hirata tersebut memang bagus. Film “Naga Bonar jadi 2” juga bagus untuk di tonton. Untuk genre humor saya kira Indonesia sangat minim variasi humornya. Humor Indonesia rata-rata lebih menonjolkan seksualitas dan pornografi. Mungkin karena orang Indonesia memang menyukai humor seperti ini kali ya? Lihat lah film-film humor Indonesia, rata-rata ide ceritanya tentang seks, homoseksual, dan lain sebagainya. Tetapi lumayan banyak juga film humor Indonesia yang bagus. “Jomblo” saya kira termasuk salah satunya. Apalagi yang memang tengah menjalani masa-masa seperti itu, hehe. Tapi sekarang saya kira film Indonesia sudah lebih menarik untuk di tonton, karena lebih variatif.

Bicara mengenai film action mungkin kita harus mengangkat topi pada Malaysia. Beberapa minggu lalu, di Malaysia sedang heboh-hebohnya film “Cicakman 2”. Ya, ini serius, “Cicakman 2”! Film action sejenis “Spiderman”, “Batman”, “Superman”, tapi versi Malaysia. “Cicakman 2” begitu Malaysia banget. Dengan bahasa campur aduk khas Malaysia, membuat film ini lumayan menarik di tonton. Sekarang ini yang sedang heboh dibicarakan di televisi lokal di sini adalah film “Maut“. Film genre horor tapi dibalut dalam kesan religius. Saya belum pernah nonton film ini karena memang saya tidak begitu tertarik dengan film genre ini. Saya jadi ingat dulu, ketika film “G30 S PKI“ diputar berulang-ulang di TVRI setiap tanggal 30 September malam, saya selalu penasaran untuk menontonnya. Tapi ‘menonton’ bagi saya didefinisikan dengan duduk di belakang abang saya dan kemudian bersembunyi di balik badannya kalau sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kan berubah menjadi horor, hehe.

Ya itulah sedikit banyak mengenai film. Walaupun kita bukan pengamat dan kritisi film, tapi sedikit banyak kita tahu mana film yang asik buat di tonton, mana film sampah yang mungkin dengar judulnya disebutkan saja kita jadi malas, apalagi untuk menontonnya. Bagaimana dengan film Aceh? Yah, kita tunggu saja bagaimana sineas Aceh mencoba untuk membuat film. “The Tsunamy” saya kira bisa menjadi film pertamanya. Walau harus bekerjasama dengan Universal Pictures, Walt Disney, atau pembuat film Hollywood lainnya. Kita tunggu saja…


Saturday, 24/01/2009 [12:30 am]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar