expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Kamis, 11 Februari 2016

After Sometimes...

1. Well, setelah sekian lama tidak ada postingan baru, akhirnya kembali lagi mencoba menulis blog yang sudah lama ditinggalkan.

2.  Postingan ini dibuat di Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh yang telah menjadi markas besar untuk sementara ini, selain di kantor Bappeda Aceh.

3. Alhamdulillah, blog ini telah mendapat 320 like di Facebook. Bagi sebagian orang mungkin ini adalah jumlah yang sangat sedikit (memang sih ;-)), tetapi bagi saya pribadi, ini adalah pencapaian yang (mungkin)luar biasa.

4. Alasannya sederhana. Pertama, blog ini tidak ditangani secara serius. Sebagian besar postingan adalah tulisan yang telah di publish di media massa. Kedua, banyak yang me 'like' group doktermuhsindotcom di facebook tidak saya kenal. Artinya ada alasan-alasan tertentu yang membuat mereka melakukan hal tersebut. Ketiga, I am not such a facebook mania yang artinya saya jarang share berita/artikel saya di FB (sesekali sih ada!)

5. Saya sedang berusaha untuk mengaktifkan kembali blog ini dengan berbagai tulisan. Mudah-mudahan saya sempat melakukannya secara rutin. Semoga.  (No picture attached).

Rabu, 10 Juni 2015

Belajar dari Sabang (Aceh) dalam pemberantasan Malaria


Kasus Filariasis kronik/elefantiasis (Muhsin)
Awal Mei lalu saya diundang ke kota Bandung untuk mengikuti sebuah konferensi internasional mengenai penyakit tropis dan parasit. Konferensi yang bertajuk “Bandung International Scientific Meeting on Parasitology and Tropical Diseases” ini dibuka oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia yang diwakili oleh Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP&PL) Kementerian Kesehatan RI, H.M. Subuh. 

Dalam sambutan yang dibacakan oleh Dirjen PP&PL, Menteri Kesehatan RI menyatakan bahwa saat ini penyakit tropis dan parasit masih menjadi salah satu permasalahan terbesar dalam bidang kesehatan di Indonesia dengan angka kematian yang tinggi pada penderitanya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para akademisi dan peneliti serta stakeholder lainnya dalam bidang terkait dalam rangka mencari solusi terbaru bagi penanggulangan dan pemberantasan penyakit tropis dan parasit di Indonesia. Oleh karena itu, Menkes berharap pertemuan-pertemuan ilmiah sejenis bisa diselenggarakan secara rutin sehingga diharapkan mampu memberikan informasi terbaru dan solusi bagi masalah kesehatan akibat penyakit tropis dan parasit.  


Sabtu, 07 Maret 2015

Mencari Obat Baru Untuk Penyakit Filariasis

Di muat dalam Rubrik Kesehatan DW TV Jerman Program Indonesia tanggal 3 Maret 2015, link klik di sini. ©DW TV 2015.

Screenshot Video tentang Filariasis oleh DW TV.
Lymphatic Filariasis atau Elephantiasis merupakan penyakit kronis yang kerap diabaikan. Untuk meneliti aspek penyakit ini, seorang peneliti Indonesia melakukan riset di Universitas Bonn, Jerman. Ia berusaha menemukan obat untuk penyakit yang disebabkan cacing itu.



Melewati Malam Pergantian Tahun di Singapura

Sabtu, 16 Maret 2013

Perlukah RSUD Baru di Aceh?



New RSU Zainoel Abidin (foto: internet)
Sebuah berita menarik di muat oleh media di Aceh beberapa minggu lalu. Berita yang berjudul  “Jerman Tawarkan Rp 1,1 T” itu mengabarkan tentang penawaran kerja sama pembangunan lima rumah sakit regional di Aceh yang diajukan oleh pemerintah Jerman diwakili oleh grup bank KfW (Kreditanstalt für Wiederaufbau) melalui sebuah unit bisnisnya KfW entwicklungsbank (Bank Pembangunan Jerman). Komitmen ini dituangkan dalam bentuk Program “New Aceh Health Project” (Proyek Kesehatan Baru Aceh). Proyek tersebut mengemuka setelah adanya pertemuan pada tanggal 27 Februari 2013 yang dihadiri oleh pejabat kFw Jerman di Aceh Dr dr Philips Stokoe dan Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah serta beberapa pejabat Aceh lainnya. Dalam pertemuan tersebut KfW menawarkan pinjaman dana segar rendah bunga (soft loan) sebesar 88 juta Euro atau Rp 1,1 triliun (kurs 1 Euro = Rp.12.500) untuk membangun lima rumah sakit baru yang akan dijadikan rumah sakit regional serta untuk pembenahan dan pemeliharaan beberapa rumah sakit di Aceh. Dalam berita tersebut juga disebutkan mengenai mekanisme pengembalian pinjaman tersebut yaitu dengan di cicil sebanyak 15 kali, Rp. 94 milyar sekali cicil. Pinjaman ini diharapkan mampu mengatasi masalah kesehatan di Aceh.

Cerita dari Duta Pendidikan di Luar Negeri

Mahasiswa Program Beasiswa Jerman Pemda Aceh Angkatan Perdana, bersama Konsul RI Hamburg dan istri (foto: D. Fitri)
Tiga tahun lalu di sebuah pertemuan wilayah penerima beasiswa yang diadakan oleh badan pertukaran Jerman (Deutscher Akademischer Austauschdienst, DAAD), tampak hadir para calon mahasiswa dari berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dari Indonesia, tampak belasan mahasiswa calon master dan doktor yang mayoritas berasal dari universitas ternama di pulau Jawa, hanya satu dua yang berasal dari Sumatera. Untuk memudahkan berdiskusi mengenai permasalahan menyangkut beasiswa, panitia membagi penerima beasiswa ini berdasarkan negara asal mereka.

Minggu, 10 Februari 2013

Sapa

Sapa (mufti ali n)
Berapa kali dalam sehari Anda menyapa orang lain? Kurang dari lima kali, sekitar 10 kali atau di atas 10 kali? Bagi Anda yang hanya menyapa beberapa kali dalam sehari, mungkin Anda termasuk orang yang tidak ramah. Tahukah Anda bahwa selama di Jerman, setiap harinya saya menyapa orang lain tidak kurang dari dua puluh kali? Anda tentu beranggapan saya sedang menipu. Tapi ini benar, saya tidak bercanda kali ini.

Saya percaya dari beberapa negara yang telah saya kunjungi, hanya di Jerman lah saya menemukan sebuah negara dimana mayoritas masyarakatnya gemar menyapa.  Pagi-pagi ketika membuka pintu keluar menuju laboratorium yang tidak jauh dari asrama, saya berpapasan dengan tetangga kamar. Mereka menyapa saya, “Good Morning“ atau hanya sekedar “Hallo“ (maklum tetangga saya orang India). Turun dari tangga asrama, saya berpapasan dengan seorang tetangga orang lokal yang tinggal di lantai atas, dia kemudian menyapa saya “Guten Morgen“ (Selamat Pagi). Keluar dari pintu utama asrama, saya berjumpa dengan orang yang saya nggak kenal sama sekali, mereka juga menyapa saya, “Hallo”.

Ikan Kayu ala Mahasiswa Aceh di Jerman

mie aceh ´made in germany´ (muhsin)
Ada yang menarik dari pertemuan mahasiswa Aceh se negara bagian North Rhein Westphalia (NRW) Jerman yang berlangsung di kota Duisburg akhir pekan lalu. Hampir semua mahasiswa Aceh yang sedang menempuh pendidikan di negara bagian dengan populasi paling padat di Jerman itu hadir pada pertemuan tersebut.

Selain itu, pertemuan itu menjadi istimewa karena menghadirkan beragam makanan khas Aceh; dari ‘asam keumamah‘ yang dibuat menggunakan asam sunti (asam kandis) terbaik dipasok langsung dari pedalaman Pidie, spaghetti rasa ‘mie caluek‘ hingga kopi ulee kareng asli dari tokonya di gampong Ulee Kareng Banda Aceh. Hadirnya masakan Aceh ala mahasiswa Jerman ini, ditambah dengan hujan salju yang turun perlahan di siang itu menambah kerinduan mereka terhadap tanah endatu yang mungkin sudah lama ditinggalkan.

Sahabat

´The Colony´, best known as ´Cool Colors´ (nn)
"A friend is one who walks in when others walk out" (Walter Winchell)

Di suatu sore yang indah menuju akhir pekan disebuah minggu yang padat, seorang teman dari Afrika bertanya kepada saya tentang rencana akhir pekan. Sudah menjadi lumrah di negara ini bahwa planning akhir pekan adalah program yang harus kita bagi kepada orang lain.

Setiap penghujung atau awal minggu, para kolega pasti akan menanyakan hal itu. Bahkan ketika belajar bahasa Jerman dulu, kami diwajibkan untuk menceritakan program akhir pekan di setiap hari Senin.

Musik ´Made in Germany´

Andreas Bourani (giga-music.de)
Musik bersifat universal. Dianya tidak terbatas ruang dan waktu apalagi bahasa. Walaupun demikian, mendengarkan lagu berbahasa yang asing di telinga kita adalah sesuatu yang tidak mudah. Selain susah untuk mencerna maksud dari lagu tersebut, lagu berbahasa asing juga sulit untuk dihafal maupun dilafal.

Selain lagu berbahasa Inggris yang sudah sejak lama populer di negara kita, lagu berbahasa Hindi juga digandrungi oleh sebagian masyarakat Indonesia. Sebagian lainnya terutama anak muda (ABG) lebih menyukai lagu-lagu berbahasa Korea sebangsa K-Pop. Booming K-Pop yang dipopulerkan oleh boyband maupun girlband asal Korea sekelas SNSD/Girls' Generation akhir-akhir ini mampu mengurangi dominasi lagu mandarin sebagai lagu oriental yang paling digemari beberapa tahun yang lalu. Perkembangan lagu Korea tersebut memang tidak dapat dipungkiri terjadi akibat boomingnya film-film korea (K-Movie) di Indonesia.

Nama

Fatimah Muhsin (devi daryaningsih)
Kali ini masih tentang tema yang sama; nama. Entah berapa kali orang bertanya kepada saya, kenapa memberi nama Fatimah kepada anak saya. Mungkin karena dianggap sangat old fashioned alias jadul serta bertolak belakang dengan tempat kelahiran putri saya - Jerman, sambil tersenyum kecut ntah karena takut saya marah atau Tuhan yang marah, mereka akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Hingga datang hari ini ketika saya dan seorang kolega keturunan Turki berkewarganegaraan Jerman, berdiskusi tentang topik tersebut.
“Sebenarnya apa sih arti nama kamu?“, tanyanya dalam bahasa Jerman disela-sela kesibukan saya dengan plate-plate ELISA yang tidak seberapa itu. “Nama seperti itu juga populer di Turki dengan penulisan yang sama“, katanya. “Well“, saya menarik nafas dalam memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan tersebut dalam bahasa yang simpel, dalam bahasa Jerman campur English tentunya.

Rabu, 22 Februari 2012

Mati Ketawa Ala Dokter Muda, bag. 2


Bahasa Latin

ilustrasi disfagia (net
Diceritakan pada suatu ketika di poliklinik THT sebuah rumah sakit, seorang dokter muda sedang melaporkan pasien yang telah diperiksanya kepada salah seorang dokter konsulen yang bertugas di poli waktu itu. Karena dikenal lumayan 'killer' mental sang dokter muda menciut, menyebabkan dirinya gugup dalam menjelaskan kondisi dan pemeriksaan pasien.

Pada kolom keluhan utama, dokter muda tersebut mencantumkan “sulit menelan”, sedangkan pada riwayat penyakit dia menyebutkan “nyeri menelan” (kedua istilah ini berbeda dalam kedokteran). Dokter spesialis yang melihat gelagat kurang baik dari dokter muda langsung memotong penjelasannya tersebut. Beliau menanyakan mengapa dirinya tidak konsisten dalam pemeriksaan pasien. Dokter THT lalu menambah pertanyaannya apakah dokter muda tersebut bisa menyebutkan perbedaan antara 'nyeri menelan' dan 'sulit menelan'. 

Mati Ketawa Ala Dokter Muda, bag. 1

Pengantar:
Cerita-cerita berikut merupakan kejadian sebenarnya yang mengalami sedikit modifikasi untuk menambah aspek humor. Semua cerita lucu ini terjadi di rumah sakit ketika saya masih menjalani kepaniteraan klinik. Sebagian pernah diterbitkan di buletin dokter muda, "Kamar Apel.com".

Tonsil adalah sesuatu...

tonsil (net)
Dokter muda memang manusia yang penuh humor. Setiap sisi kehidupannya tak lepas dari humor dan candaan. Bisa dibayangkan kalau humor tidak terdapat pada mereka, maka dunia perkoasan (maaf, bukan perkosaan) akan terasa kaku dan membosankan.

Cerita ini terjadi (kembali) di Ruang OK (ruang operasi) sebuah rumah sakit. Seorang konsulen THT tampak dengan sangat teliti mengamati tonsil (amandel, red) seorang pasien yang didiagnosa tonsillitis kronis. Pasien tersebut sudah tak sadarkan diri akibat pengaruh obat bius yang diberikan oleh dokter anastesi.

Karena ingin memberi ilmu kepada mahasiwa nya sekaligus ingin mengetes kemampuan daya serap para mahasiswa terhadap ilmu yang didapat selama menjalani kepaniteraan klinik di poli THT, sang konsulen tersebut lalu memanggil para koas. Ketika itu terdapat tiga orang dokter muda (DM) senior di bagian THT. “Apa yang kalian lihat ini?” tanyanya sambil menunjuk salah satu ke arah tonsil yang akan di operasi. “Tonsil, dok”, jawab mereka bertiga mantap. “Oke, Mr. A, apa itu tonsil?”. Dengan penuh percaya diri DM itu menjawab, “Tonsil adalah sebuah organ, bla..bla,,”. “Salah, coba kamu Mr. B”, konsulen menimpali. “Tonsil adalah sebuah jaringan, bla..bla..”, jawab DM kedua. Karena masih belum puas, konsulen bertanya kepada DM ketiga. “Tonsil adalah sesuatu yang..hmm..yang..mudah tetapi...susah diungkapkan, dok”. Hehehe...

Sabtu, 18 Februari 2012

Kopi di Jerman

(Dimuat di rubrik Citizen Repoter Harian Serambi Indonesia, 13 Februari 2012)

suasana sebuah cafe di Jerman (Maimun Rizal)
Mungkin hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa selain terkenal sebagai penggila bir, orang Jerman juga sangat menyukai kopi. Faktanya, jumlah kopi yang diminum oleh masyarakat Jerman melebihi konsumsi bir mereka, yang telah menjadi trademark orang Jerman sebagai peminum bir paling besar di dunia. Konsumsi kopi di negara ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun, rata-rata sebesar 146 liter per kapita pertahun pada tahun 2007, lebih tinggi dari konsumsi air mineral dan suplemen vitamin yang hanya 130,4 liter serta bir yang hanya 116 liter saja. Hal ini menyebabkan kopi sebagai minuman yang paling banyak dikonsumsi di Jerman. Selain itu, menurut sebuah survey, rata-rata orang Jerman membeli kopi (baik berbetuk bubuk maupun biji) sebanyak 6,1 kg per orang setiap tahunnya!

Jumat, 17 Februari 2012

3Gs for one G

Ilustrasi Pemilihan Umum (net)


"To achieve a G (glory) on an election, people are still using other 3Gs; Gold (money), Government (power) and Gun (violence). That’s normal, even in developed countries (like in the US); the candidates are still applying one of these methods to win. However, only primitive people in primitive countries in Africa and some parts in Asia are applying the last." (Muhsin, 2012)

Dalam Bahasa Indonesia:
"Untuk meraih sebuah G (glory atau kejayaan) dalam sebuah pemilihan umum, orang-orang masih menggunakan 3 G lainnya: Gold (emas) atau uang, Government (pemerintah) atau kekuasaan dan Gun (senjata) atau kekerasan. Itu hal yang wajar, bahkan di negara maju (seperti di Amerika Serikat); para calon masih menerapkan salah satu dari ketiga metode ini untuk menang. Tetapi, hanya orang-orang primitif di negara-negara primitif di Afrika dan beberapa belahan Asia yang masih menggunakan cara yang terakhir (senjata atau kekerasan)" (Muhsin, 2012)

Rabu, 15 Februari 2012

SAMPAH di Facebook


SAMPAH!Ô  (net)
Sering kita menganggap facebook layaknya situs pribadi tempat curhat yang selalu setia menjadi tempat kita berkeluh-kesah. Keberadaan FB sepertinya menggantikan diari yang mencatat segala keseharian kita dari bangun pagi hingga tidur lagi. Tapi bukankah diari yang biasa digunakan buat nulis itu kebanyakan memiliki gembok supaya orang lain tidak bisa membacanya? Tapi kenapa kita membiarkan orang lain 'membaca' keseharian kita dalam facebook?


Pernahkah kamu merasa bahwa status yang diupdate temanmu adalah sesuatu yang nggak penting untuk diketahui sama sekali? Menurut kamu berapa persen status facebook yang bermamfaat buatmu, 70, 60, 50% atau bahkan kurang dari itu. Selebihnya? Ya, status-status yang nggak penting tapi selalu saja menghiasi home facebook kita. Tahukah kamu bahwa teman-teman yang ada dalam friend list mu ibarat tong sampah yang terpaksa menampung puluhan status tidak penting yang kamu buang setiap harinya?

Minggu, 12 Februari 2012

Miras, pembunuh berdarah dingin


Kapal pesiar Italia yang terbalik (net)

Sebuah berita mengejutkan datang dari Italia beberapa minggu yang lalu. Sebuah kapal pesiar mewah berbendera Italia yang mengangkut ribuan orang kaya dari berbagai negara berlabuh terlalu dekat dengan sebuah pulau sehingga menabrak sebuah karang di pulau tersebut. Tak dinyana, kapal mewah bernama Costa Concordia itu langsung berat sebelah sehingga membuat suasana para penumpang yang sedang bergembira menikmati makan malamnya gempar dan panik. Adegan bak film “Titanic“ yang melambungkan nama aktor Leonardo di Caprio itu pun terulang. Orang lari pontang panting menyelematkan diri. Kegaduhan yang diceritakan banyak orang sebagai sebuah mimpi buruk itu pun menewaskan 13 orang, dan menyisakan beberapa orang lainnya yang masih hilang. Semua orang kemudian menyalahkan sang Kapten, Francesco Schettinoe yang dianggap lalai sehingga menyebabkan belasan orang tewas. Usut punya usut sesaat sebelum kejadian tersebut, sang kapten ditengarai sedang berkencan dengan seorang wanita muda bernama Domnica Cermotan. Mereka menghabiskan sebotol wine (anggur) beberapa jam sebelum kapal tersebut terbalik.

Minggu, 08 Januari 2012

Mayoritas-minoritas atau sukuisme?

Dimuat pada Harian Aceh,  Februari 2011

Anti SARA (internet)
Pada acara peringatan 20 tahun reunifikasi Jerman Oktober tahun lalu, dalam pidato tertulisnya, Presiden Jerman, Christian Wulff membuat pernyataan yang mengguncang Jerman saat itu. Dia menyebut bahwa Islam, sama seperti agama yang sudah ada di Jerman; Kristen dan Yahudi merupakan bagian dari Jerman (´Der Islam gehört zu Deutschland´). Terang saja, statement kontroversial ini menyulut reaksi pro dan kontra dari masyarakatnya, hingga selang beberapa menit kemudian, Kanselir Jerman, yang merupakan pemimpin tertinggi negara federasi ini, Angela Merkel langsung meralat pidato sang Presiden. ´Der Islam gehört nicht zu Deutschland´ (Islam bukan bagian dari Jerman), katanya tegas.

Menuju Peningkatan Pelayanan Kesehatan di Aceh

(Dimuat di rubrik Opini Harian Serambi Indonesia, September 2011)

Seorang dokter anak di Jerman. (muhsin)
“Apa yang bisa saya bantu?“, tanya seorang perempuan pirang berjas putih panjang di depan saya dalam Bahasa Jerman yang normal, tidak terlalu cepat maupun lambat. “Bisa Anda berbicara bahasa Inggris?”, tanya saya dengan bahasa Jerman terbatas. “Ya, tentu. So, apa keluhan Anda?“, ujarnya. Saya menceritakan dengan sistematis masalah yang dialami istri saya termasuk mengenai kehamilannya yang memasuki minggu-minggu awal. Dengan penuh perhatian dia mendengarkan keluhan kami, lalu memeriksa istri saya. Semua proses tersebut berlangsung lebih dari tiga puluh menit. Dokter tersebut dengan sabar menjelaskan semua yang kami tanyakan.

Islam Solusi Pandemi Flu Babi

(Tulisan lama saya [November 2009] ketika Flu Babi sedang marak-maraknya diperbincangkan di dunia. Kenyataannya wabah tersebut belum hilang dari muka bumi.)

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah ...”(QS. Al-Maidah: 3)
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah...” (QS. Al-Baqarah: 173)
“Katakanlah: ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah…” (Al An’am:  145)

Mata rantai penyebaran Flu Babi (internet)
Pada laporan terakhir yang diterbitkan pada Sabtu (9/5) lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan virus N1H1 yang lebih dikenal dengan virus Flu Babi telah menginfeksi lebih dari 3.440 orang di 29 negara seluruh dunia. Angka tertinggi terjadi di Meksiko dengan menewaskan 45 orang. Amerika Serikat, sang super power, tidak ketinggalan diserbu oleh flu yang hanya berukuran 80-120 nanometer (sekitar seperseribu ukuran rambut manusia) itu. Hanya selang satu hari, infeksi Flu Babi di AS meningkat dua kali lipat menjadi 2.200 kasus pada hari Minggu kemarin. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah di banyak negara. WHO bahkan telah meningkatkan status pandemik flu babi menjadi Fase 5 yaitu fase imminent atau “sudah dekat” dari 6 fase keseluruhan.