expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2012

3Gs for one G

Ilustrasi Pemilihan Umum (net)


"To achieve a G (glory) on an election, people are still using other 3Gs; Gold (money), Government (power) and Gun (violence). That’s normal, even in developed countries (like in the US); the candidates are still applying one of these methods to win. However, only primitive people in primitive countries in Africa and some parts in Asia are applying the last." (Muhsin, 2012)

Dalam Bahasa Indonesia:
"Untuk meraih sebuah G (glory atau kejayaan) dalam sebuah pemilihan umum, orang-orang masih menggunakan 3 G lainnya: Gold (emas) atau uang, Government (pemerintah) atau kekuasaan dan Gun (senjata) atau kekerasan. Itu hal yang wajar, bahkan di negara maju (seperti di Amerika Serikat); para calon masih menerapkan salah satu dari ketiga metode ini untuk menang. Tetapi, hanya orang-orang primitif di negara-negara primitif di Afrika dan beberapa belahan Asia yang masih menggunakan cara yang terakhir (senjata atau kekerasan)" (Muhsin, 2012)

Minggu, 08 Januari 2012

Mayoritas-minoritas atau sukuisme?

Dimuat pada Harian Aceh,  Februari 2011

Anti SARA (internet)
Pada acara peringatan 20 tahun reunifikasi Jerman Oktober tahun lalu, dalam pidato tertulisnya, Presiden Jerman, Christian Wulff membuat pernyataan yang mengguncang Jerman saat itu. Dia menyebut bahwa Islam, sama seperti agama yang sudah ada di Jerman; Kristen dan Yahudi merupakan bagian dari Jerman (´Der Islam gehört zu Deutschland´). Terang saja, statement kontroversial ini menyulut reaksi pro dan kontra dari masyarakatnya, hingga selang beberapa menit kemudian, Kanselir Jerman, yang merupakan pemimpin tertinggi negara federasi ini, Angela Merkel langsung meralat pidato sang Presiden. ´Der Islam gehört nicht zu Deutschland´ (Islam bukan bagian dari Jerman), katanya tegas.

Jumat, 24 April 2009

Pilkada Oh Pilkada

Komentar pembaca pasca Pilkada Aceh 2007

Neng..kametapaneng..meugisa-gisa...Rata jurong ka mumang keubit metapaneng megisa-gisa. Ladum galak keu pangkat jabatan…Lagu “Mumang” karya diva musik Aceh, Rafly dengan Kande-nya ini sangat tepat menggambarkan situasi perpolitikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dalam satu minggu belakangan ini. Rakyat semakin mumang memikirkan pelaksanaan Pilkada Aceh, yang katanya baru pertama kali dilaksanakan di dunia secara serentak yang melibatkan lebih dari 15 kabupaten/kota. Semua mata memandang ke daerah ini. Termasuk Sekjen PBB turut nibrung mengeluarkan statementnya. Padahal apalah artinya sebuah provinsi yang hanya berpenduduk sekitar 4 juta jiwa ini?

Aceh Dalam Kacamata Snouck Hungronje

Saya suka tulisan ini karena saya suka sejarah Aceh.

“Uma (Teuku Umar, pahlawan nasional, pen) : ia khas seorang Aceh, tidak dapat dipercaya sama sekali, diperbudak candu dan judi, tetapi dia berbeda dengan kebanyakan pemimpin Aceh dalam hal kegiatan kerja dan kepandaian bergaul yang luar biasa dengan segala macam manusia”
(Dr. Snouck Hurgronje)

Pernahkah anda mendengar nama Dr. Snouck Hurgronje? Saya kira hampir semua masyarakat Aceh mengenal nama ini. Siapa yang tidak kenal dengan musuh nomor satu rakyat Aceh pada masa-masa perjuangan melawan kolonialis Belanda. Hampir semua orang Aceh pernah mendengar nama seorang ilmuwan yang dengan kecerdasan intelektualnya diangkat sebagai penasehat politik untuk menghancurkan perlawanan rakyat Aceh oleh pemerintah kolonialis Belanda. Hampir semua rakyat Aceh mengenalnya, minimal pernah  mendengar atau membaca tentang dirinya, juga sepak terjangnya dalam menumpas perlawanan masyarakat Aceh melawan Belanda. Bahkan orang Aceh melafazkan namanya dengan : Tuan SEUNUET – yang artinya menghajar dengan cambuk, sebagai bentuk permusuhan yang sangat mendalam terhadap dirinya.

Irwandi, Soros dan Kelapa Sawit Aceh

Tulisan tentang analisis ekonomi yang menarik. Apalagi terkait investasi yang dilakukan oleh seorang pialang bandit internasional.

George Soros (kiri) dan Irwandi Yusuf (kanan) (internet)
"Tadi saya ketemu dia (George Soros) (13/9). Dia katakan tertarik untuk menggarap perkebunan kelapa sawit, 20.000 hektar dulu. Lumayan, itu bisa menghidupi 2.500 kepala keluarga di Aceh. Pokoknya setelah ini, kedua belah pihak akan segera menggarap rencana tersebut. “ (Gubernur Aceh, Drh. Irwandi Yusuf, M.Sc seperti dikutip ANTARA, 14 September 2007)