expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2015

Belajar dari Sabang (Aceh) dalam pemberantasan Malaria


Kasus Filariasis kronik/elefantiasis (Muhsin)
Awal Mei lalu saya diundang ke kota Bandung untuk mengikuti sebuah konferensi internasional mengenai penyakit tropis dan parasit. Konferensi yang bertajuk “Bandung International Scientific Meeting on Parasitology and Tropical Diseases” ini dibuka oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia yang diwakili oleh Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP&PL) Kementerian Kesehatan RI, H.M. Subuh. 

Dalam sambutan yang dibacakan oleh Dirjen PP&PL, Menteri Kesehatan RI menyatakan bahwa saat ini penyakit tropis dan parasit masih menjadi salah satu permasalahan terbesar dalam bidang kesehatan di Indonesia dengan angka kematian yang tinggi pada penderitanya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para akademisi dan peneliti serta stakeholder lainnya dalam bidang terkait dalam rangka mencari solusi terbaru bagi penanggulangan dan pemberantasan penyakit tropis dan parasit di Indonesia. Oleh karena itu, Menkes berharap pertemuan-pertemuan ilmiah sejenis bisa diselenggarakan secara rutin sehingga diharapkan mampu memberikan informasi terbaru dan solusi bagi masalah kesehatan akibat penyakit tropis dan parasit.  


Sabtu, 07 Maret 2015

Melewati Malam Pergantian Tahun di Singapura

Minggu, 10 Februari 2013

Ikan Kayu ala Mahasiswa Aceh di Jerman

mie aceh ´made in germany´ (muhsin)
Ada yang menarik dari pertemuan mahasiswa Aceh se negara bagian North Rhein Westphalia (NRW) Jerman yang berlangsung di kota Duisburg akhir pekan lalu. Hampir semua mahasiswa Aceh yang sedang menempuh pendidikan di negara bagian dengan populasi paling padat di Jerman itu hadir pada pertemuan tersebut.

Selain itu, pertemuan itu menjadi istimewa karena menghadirkan beragam makanan khas Aceh; dari ‘asam keumamah‘ yang dibuat menggunakan asam sunti (asam kandis) terbaik dipasok langsung dari pedalaman Pidie, spaghetti rasa ‘mie caluek‘ hingga kopi ulee kareng asli dari tokonya di gampong Ulee Kareng Banda Aceh. Hadirnya masakan Aceh ala mahasiswa Jerman ini, ditambah dengan hujan salju yang turun perlahan di siang itu menambah kerinduan mereka terhadap tanah endatu yang mungkin sudah lama ditinggalkan.

Sabtu, 18 Februari 2012

Kopi di Jerman

(Dimuat di rubrik Citizen Repoter Harian Serambi Indonesia, 13 Februari 2012)

suasana sebuah cafe di Jerman (Maimun Rizal)
Mungkin hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa selain terkenal sebagai penggila bir, orang Jerman juga sangat menyukai kopi. Faktanya, jumlah kopi yang diminum oleh masyarakat Jerman melebihi konsumsi bir mereka, yang telah menjadi trademark orang Jerman sebagai peminum bir paling besar di dunia. Konsumsi kopi di negara ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun, rata-rata sebesar 146 liter per kapita pertahun pada tahun 2007, lebih tinggi dari konsumsi air mineral dan suplemen vitamin yang hanya 130,4 liter serta bir yang hanya 116 liter saja. Hal ini menyebabkan kopi sebagai minuman yang paling banyak dikonsumsi di Jerman. Selain itu, menurut sebuah survey, rata-rata orang Jerman membeli kopi (baik berbetuk bubuk maupun biji) sebanyak 6,1 kg per orang setiap tahunnya!

Sabtu, 07 Januari 2012

Hari Raya Tanpa 'Timphan' di Jerman

Di muat pada rubrik Citizen reporter, Harian Serambi Indonesia, September 2011

Mahasiswa Aceh berhari raya di Jerman (zuhra sofyan)
Apalah arti hari raya tanpa timphan, ujar seorang teman kepada saya beberapa waktu lalu; ibarat kopi tanpa gula, hidup tanpa cita-cita. Begitulah kira-kira gambaran hari raya bagi masyarakat Aceh di Jerman. Kalau keinginan sudah tak terbendung lagi, timphan made in Germany bisa saja menjadi solusi, walau tidak se-orinsinil dan selezat jika dibuat di negara asalnya. Alasannya sangat logis, menggunakan alumunium foil sebagai pengganti daun pisang memang akan mengurangi rasa dan aromanya. Menemukan daun pisang muda juga bukan perkara mudah, selain susah didapat, harganya juga tidak terbilang murah. Wajar, barang import harganya selalu di atas rata-rata.

Jerman di bulan Desember

Suasana Pasar Natal di Jerman. (muhsin) 
(Dimuat di www.acehcorner.com, edisi Januari 2012)
Ahad siang. Matahari masih malu-malu menampakkan wajahnya, hingga membuat suhu menjadi sangat dingin bahkan di bawah nol derajat celsius. Salju yang turun sejak beberapa minggu lalu masih saja menebal di beberapa tempat. Di jalan, lalu lalang kenderaan bermotor perlahan-lahan membuat salju tersebut mencair menimbulkan becek parah di sana-sini sehingga menimbulkan kesan jorok. 

Minggu, 07 Agustus 2011

Puasa di Jerman, 19 jam yang penuh tantangan

Menu Buka Puasa di Jerman. (muhsin)
Tahun ini merupakan tahun keempat saya menjalankan ibadah puasa di Jerman. Layaknya negara eropa lainnya, Jerman juga berpenduduk mayoritas non-muslim dengan sepertiga penduduknya tidak mempunyai agama (atheis). Komunitas muslim yang hanya 4 persen saja dari sekitar 80 juta penduduknya memang belum diakui haknya oleh negara. Walaupun demikian, pertumbuhan ummat muslim yang meningkat pesat, baik dari masyarakat Jerman yang berpindah agama, maupun imigran, memberi nuansa tersendiri terutama di bulan Ramadhan seperti sekarang ini. Jerman merupakan negara sekuler yang memisahkan agama dengan negara sehingga tidak mengakui adanya bulan Ramadhan. Hal ini mengakibatkan hak-hak muslim untuk mendapatkan keringanan dalam belajar maupun bekerja tidak diatur dalam undang-undang. Menjalankan puasa di negara yang mayoritas penduduknya non muslim memang memiliki tantangan tersendiri. Apalagi kalau puasa tersebut jatuh pada musim panas seperti sekarang ini. Selain waktu pelaksanaannya jauh lebih panjang karena paparan sinar matahari yang lebih lama, tantangan lainnya seperti lingkungan sekitar yang tidak ‘pro‘ orang berpuasa juga menambah cabaran menjalani puasa di negeri ini.

Sabtu, 20 Maret 2010

Mari Bicara Toleransi

suasana di dapur asrama di Jerman (maimun rizal)
Hari ini ada kejadian menarik di Wohnheim. Ketika aku sedang asyik memasak untuk makan siang di dapur umum blok kamarku, tiba-tiba tiga orang anak muda masuk mengejutkanku sembari mengucapkan salam. Aku terkejut. Sembari membalas penuh salam mereka, aku memperhatikan wajah mereka satu per satu. Salah satu dari mereka aku kenal. Beberapa malam yang lalu aku sempat berpapasan dengannya di koridor depan kamarku. Hanya kata “Halo“ yang terucap ketika itu. “Woher kommen Sie?“, sapaku kemudian, ramah. Aku tahu mereka pastinya muslim dan telah mendoakan keselamatanku tadi. “Du, nicht Sie“, katanya menimpali. “Ich komme aus Palestinen“ katanya dengan suara agak keras sambil memperagakan beberapa adegan memegang senjata dan sedikit tersenyum.

Jumat, 24 April 2009

Apa Kabar Aceh?

Sempat dikirim ke Harian Kompas. Tulisan ini memberi gambaran terhadap kondisi Aceh, beberapa bulan pasca tsunami. 

Pernah tidak anda berkunjung ke Aceh dua atau tiga bulanan ini? Jika jawaban anda belum, maka anda termasuk orang yang kurang beruntung. Tetapi jika jawaban anda sudah, anda pasti telah melihat bagaimana luluh lantaknya Nanggroe Aceh Darussalam akibat terjangan bencana bulan Desember 2004 lalu. Bagi anda yang telah berkunjung ke Aceh sebelum bencana alam gempa dan gelombang Tsunami, anda pasti akan terkejut melihat bagaimana dahsyatnya gelombang yang namanya hanya terdiri dari tujuh huruf itu.

Rabu, 28 Januari 2009

Tour De Malaysia: Enjoy Malaysia!

First day; The Memories of “Payeh Bad Story”

Apartment di GMI (mufti ali nasution)
Kalau misalnya tiba-tiba seorang wartawan media massa meminta tanggapanku mengenai transportasi public di Malaysia pada saat liburan, aku pasti langsung menjawab, “Teruk sangat”. Bagaimana tidak, hari pertama ‘tour’ku di negeri Datok Siti ini, aku dicapekkan dengan masalah transportasi publik di negeri ini.